Minggu, 21 Oktober 2012

MAKNA PUISI "AKU" CIPTAAN CHAIRIL ANWAR


AKU


Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Analisis puisi 


1.      TemaTema adalah sesuatu yang menjadi pikiran pengarang. Sesuatu yang menjadi pikiran tersebut dasar bagi puisi yang dicipta oleh penyair. Sesuatu yang dipikirkan itu bias bermacam-macam permasalahan hidup. Penyair tidak pernah menyebut tema tema puisi yang ditulisnya. Untuk mengetahui temasebuah puisi pembaca harus membaca keseluruhan puisi tersebut dengan cermat.Tema pada puisi “Aku” karya Chairil Anwar adalah menggambarkan semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Seperti pada baris keempat dan kelima : ‘Biar peluru menembus kulitku’‘Aku tetap meradang menerjang’. 2.      NadaNada adalah sikap penyair kepada pembaca.Dalam Puisi ‘Aku’ terdapat kata ‘Tidak juga kau’, Kau yang dimaksud dalam kutipan diatas adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini. Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk. Disamping Chairil ingin menunjukkan ketidak peduliannya kepada pembaca, dalam puisi ini juga terdapat pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu itu adalah makhluk yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia. Selain itu, Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu dalam berkarya. Berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun bentuk penilaian itu.3.      RasaRasa adalah sikap penyeir terhadap pokok permasalahan yang terdapat pada puisinya.Pada puisi “Aku” karya Chairil Awar  merupakan eskpresi jiwa penyair yang menginginkan kebebasan dari semua ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau menyatakan kenyataan alam, tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin berkreasi. Sikap jiwa “jika sampai waktunya”, ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapun yang terjadi, ia ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai “aku”. Bahkan jika ia terluka, akan di bawa lari sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa dengan luka itu, ia akan lebih jalang, lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah hidup. Sebab itu ia malahan ingin hidup seribu tahun lagi. Uraian di atas merupakan yang dikemukakan dalam puisi ini semuanya adalah sikap chairil yang lahir dari ekspresi jiwa penyair.4.      AmanatAmanat adalah hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat berhubungan dengan makna karya sastra. Makna bersifat kias, subjektif, dan umum. Makna berhubungan dengan individu, konsep seseorang dan situasi tempatpenyair mengimajinasikan puisinya.Amanat dalam Puisi ‘Aku’ karya Chairil Anwar yang dapat saya simpulkan dan  dapat kita rumuskan adalah sebagai berikut :
  • Manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun   rintangan menghadang.
  • Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannyasaja.
  • Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya itu dapat hidup selama-lamanya.
5.      DiksiUntuk ketepatan pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat, diubah kata-katanya.Seperti pada baris kedua: bait pertama“Ku mau tak seorang ’kan merayu”Merupakan pengganti dari kata “ku tahu”.“kalau sampai waktuku”dapat berarti “kalau aku mati”“tak perlu sedu sedan“dapat bererti “berarti tak ada gunannya kesedihan itu”. “Tidak juga kau” dapat berarti “tidak juga engkau anaku, istriku, atau kekasihku”.6.      Pengimajian               Gambaran-gambaran angan, gambaran pikiran, kesan mental atau bayangan visual dan bahasa yang menggambarkannya biasa disebut dengan citra atau imaji. Citraan dapat dikelompokan atas beberapa macam, antara lain : citraan visual (penglihatan), citraan auditif (pendengaran), citraan artikulatoris (pengucapan), citraan alfaktori (penciuman), citraan gustatory (kecakapan), citraan taktual (peraba/ perasaan), citraan kinaestetic “kinaestetik” (gerak), dan citraan organik.Di dalam sajak ini terdapat beberapa pengimajian, diantaranya :‘Ku mau tak seorang ’kan merayu (Imaji Pendengaran)‘Tak perlu sedu sedan itu’ (Imaji Pendengaran)‘Biar peluru menembus kulitku’ (Imaji Rasa)‘Hingga hilang pedih perih’ (Imaji Rasa).7.   Kata Konkrot     Kata konkret adalah kata-kata yang digunakan penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca. Secara makna, puisi Aku tidak menggunakan kata-kata yang terlalu sulit untuk dimaknai, bukan berarti dengan kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas dari puisi ini. Sesuai dengan judul sebelumnya, puisi tersebut menggambarkan tentang semangat dan tak mau mengalah, seperti Chairil itu sendiri.8.      VersifikasiRitme dalam puisi yang berjudul ‘Aku’ ini terdengar menguat karena ada pengulangan bunyi (Rima) pada huruf vocal ‘U’ dan ‘I’Vokal ‘U’pada larik pertama dan ke dua, pengulangan berseling vokal a-u-a-uLarik pertama ‘Kalau sampai waktuku.’Larik kedua ‘Ku mau tak seorang-’kan merayu.Larik kedua ‘Tidak juga kau’.Pengulangan vokal ‘I’:Luka dan bisa kubawa berlariBerlariHingga hilang pedih perihDan aku akan lebih tidak peduliAku mau hidup seribu tahun lagi9.      TipogafriTipografi atau disebut juga ukiran bentuk. Dalam Puisi didefinisikan atau diartikan sebagai tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa dan suasana. Namun dalam sajak ‘Aku’ karya Chairil Anwar tidak menggunakan tipografi.10.  Sarana RetorikaDalam sajak ini intensitas pernyataan dinyatakan dengan sarana retorika yang berupa hiperbola, dikombinasi dengan ulangan, serta diperkuat oleh ulangan bunyi vokal a dan u ulangan bunyi lain serta persajakan akhir seperti telah dibicarakan di atas.Hiperbola tersebut :Aku ini binatang jalangDari kumpulannya terbuangBiar perlu menembus kulitkuAku tetap meradang menerjang………Aku ingin hidup seribu tahun lagiGaya tersebut disertai ulangan i-i yang lebih menambah intensitas :Luka dan bisa kubawa berlariBerlariHingga hilang pedih periDan aku akan lebih tidak perduliAku ingin hidup seribu tahun lagiDengan demikian jelas hiperbola tersebut penonjolan pribadi tanpa makin nyata disana ia mencoba untuk nyata berada di dalan dunianya.

2 komentar:

  1. makasi atas infirasinya, semoga tambah berkah ilmunya

    terima kasih , sangat membantu^^

    BalasHapus
  2. makasi atas infirasinya, semoga tambah berkah ilmunya

    terima kasih , sangat membantu^^

    BalasHapus